Batik Wahyu Temurun, Peninggalan Budaya Mataram Islam yang Kaya Akan Filosofi

Batik Wahyu Temurun, Peninggalan Budaya Mataram Islam yang Kaya Akan Filosofi

Di daerah Yogyakarta dan Surakarta, sudah sejak ratusan tahun yang lalu masyarakatnya mengenal batik Wahyu Temurun dan melestarikannya sebagai kain batik yang bernilai seni dan budaya yang tinggi. Nama wahyu temurun ini dalam bahasa Indonesia bermakna Turunnya Wahyu yang kental akan simbol simbol yang berasal dari ajaran Agama Islam yang sejak dulu sudah dianut oleh kerajaan Mataram Islam yang awalnya berpusat di Yogyakarta. Batik bermotif wahyu temurun ini sangat indah coraknya sehingga banyak disukai oleh peminat busana batik.
Sebagai simbol utama batik ini adalah motif Mahkota terbang yang mewakili kemuliaan, bermakna manusia yang mendapatkan petunjuk, rahmat, berkah dan anugerah dari Allah Subhanahu Wataala. Selain itu bisa juga diartikan sebagai kedudukan dan jabatan yang tinggi di dunia ini yang bisa membawa kebaikan.


Masyarakat Yogya dan Solo sering menggunakan kain batik bermotif wahyu temurun ini ketika sedang ada upacara pernikahan dengan adat jawa. Umumnya kain batik ini digunakan sebagai busana jarit untuk bawahan yang dipakai oleh kedua orang tua mempelai pengantin. Hal ini mengandung harapan agar sepasang pengantin itu akan mendapatkan keharmonisan dalam keluarga atas rahmat dari Allah subhanahu wataala yang menyertai mereka.
Menurut catatan sejarah Batik wahyu tumurun telah ada sejak tahun abad ke-14 di kerajaan mataram islam di Jogjakarta. Ketika kerajaan mataram pecah menjadi dua yaitu kesultanan Yogyakarta dan kesultanan di Surakarta, motif batik wahyu temurun mengalami perubahan sedikit pada motifnya. Kalau di yogyakarta masih tetap mempunyai gambar yang bercorak burung merak, kalau di Surakarta / Solo motif burung merak di batik Wahyu Tumurun diganti dengan motif burung Phoenix. Hal ini karena saat itu banyak orang Cina yang datang dan menetap di Solo dan mempengaruhi budaya dan seni batik di Solo.

Filosofi Batik Wahyu Tumurun di Ngayogyakarta mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:

  1. Redi: Gunung bercahaya dengan gua di tengahnya. Gambar ini melambangkan gunung Jabal Nur dan Gua Hira di tanah Arab dimana Nabi Muhammad SAW memperoleh wahyu yang pertama.
  2. Elar: Sayap malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu.
  3. Sawung: Ayam jago. Gambar ini menyimbolkan waktu fajar.

Pembuatan tiga gambar tadi di batik wahyu temurun terinspirasi oleh hadist nabi yang berbunyi : “ Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS. Al-Qadr [97]: 4-5)

  1. Ketopong (mahkota terbang). Gambar ini menyiratkan pesan bahwa penghafal Al Qur’an dan orang yang mengamalkan isi al quran (wahyu) akan dipakaikan mahkota yang bersinar melebihi cahaya mentari.
  2. Lung-lungan (cabang-cabang tumbuhan). Gambar ini merupakan simbol dari ayat : “akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.” (QS. Ibrahim [14]: 24)
  3. Kusuma (bunga) dan buah Sawo Kecik (sarwo becik; serba baik). Gambar ini merupakan simbol dari : “ akhlak pembaca Al Qur’an harus harum mewangi dan manis rasanya “ (Surah Ibrahim [14] ayat 25).
  4. Isen-isen Keras (tumpukan batu batuan di pegunungan), sebagai pengingat bahwa gunung pun akan hancur karena takut pada Allah jika Al Qur’an diturunkan padanya (Surah Al Hasyr [59] ayat 21). Dan sebagai simbol pula agar setiap manusia agar tidak memiliki hati yang keras seperti batu, apabila datang nasihat yang baik maka sebaiknya setiap insan manusia harus lunak dan menerima kebenaran.
Telepon
Whatsapp